Minggu, 26 Juli 2015

Tembok(if you understand whose i mean :))

Kalau bukan dirimu, siapa lagi yang bisa mengangkat dirimu?
Sebuah analogi yang mengena sekaligus susah unuk dilaksanakan.
Di saat sisi dirimu yang satu tidak ingin melakukan apa-apa, sisi dirimu yang lain memaksa dirimu untuk keluar dari keadaan tersebut.
Jika sisi yang ingin melakukan lebih kuat, ya betul memang akan mengerjakan, tetapi akan sangat terpaksa.
Jika sisi yang hanya ingin berdiam lebih kuat, muncul rasa kemalasan yang luar biasa, hanya bersantai di depan gadget.

aku hidup sekarang, rasanya seperti terjepit di dua tembok
Tembok yang lain ingin aku sukses, tetapi tembok yang sama itulah menginginkan aku sukses tidak ingin bersusah lebih repot. Aku tidak diijinkan untuk melakukan semuanya sendiri.
Kamu tahu? Tembok itu adalah penghalang bagiku. Tidak hanya tembok tersebut, ada tembok kecil yang juga menjadi penghalang. Mudah bagiku untuk pergi dari tembok itu, tetapi aku tak bisa meninggalkan tembok kecil . Sang tembok kecil masih butuh bantuan aku. Tembok-tembok itu juga tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik jika aku pergi untuk hidup sendiri tanpa ada kekangan.

Memang enak hidup bersama dengan mereka. Kebutuhan finansial, sandang, dan pangan terpenuhi, namun aku merasa tidak nyaman karena perilaku salah satu tembok itu.
Aku benci, aku tidak suka dengan salah satu tembok itu, tapi aku masih membutuhkannya. Serba salah. begitu salah begini salah.
Betul betul sangat tidak menyukai tembok itu.

Kalau begini, aku bisa apa? Selain berbicara pada diri sendiri dalam hati.