Apa tidak capek, dari TK sampai sudah menjadi mahasiswa digeber terus dengan ilmu?
Keceriaan untuk bermain, bersosialisasi pun mau tak mau harus rela "disita" oleh penatnya tugas, ulangan dan lain-lain...
Kali ini, kata belajar yang ini berbeda.
Mengapa berbeda? Itu ilmu, bisa didapat dari buku, televisi, internet yang sudah menyebar ke pelosok-pelosok daerah (yeah, i know that not all place has an internet connection), belajar ini berhubungan dengan hidup dan juga menyangkut mental pribadi...
Dari semenjak saya bisa berbicara, boleh diakui saya orangnya ini sulit sekali untuk percaya dengan orang lain. Saya orangnya pencemas. Seiring bertambahnya umur dan banyak ilmu ataupun informasi yang masuk, perlahan saya belajar untuk menerima dan percaya pada orang lain. Saya masih ingat, ketika di zaman SD, saya pernah mengungkapkan perasaaan saya kepada orang yang saya sukai, namun sayangnya hasilnya tak berjalan dengan mulus. Ia bahkan sempat menjaga jarak, sedihnya luar biasa :( .
Ketika saya masuk SMP pun, ada saja orang yang berhasil memikat hati. Belajar dari pengalaman SD itulah, saya hanya berani memendam perasaan kepadanya tanpa mengatakan langsung padanya. Selama 3 tahun itulah, saya memendam terus, padahal di dalam kesehariannya saya dengan ia mengobrol seperti biasa. Hati saya sakit, ya sakit sekali karena harus memendam. Saya tak tahu kalau memang seandainya ia pernah menyimpan rasa pada saya (loh kenapa jadi curcol seperti ini... ) . Adapun saya sempat menyukai seorang guru, namun karena ia adalah seorang guru, ya saya tahu sendiri lah, tidak sepantasnya mengatakan perasaan pada guru tersebut. Kalau kepada teman sebaya sih, sudah pasti akan kucoba untuk diungkapkan.
Kisah lama pun berulang ketika di SMA, tidak berjalan dengan mulus, walaupun saya tak mengungkapkan secara langsung, tetapi melalui tindakan (ada perubahan sih ya). Perubahan yang baru kurasakan ketika duduk di jenjang SMA, sudah lebih berani, tetapi lagi-lagi masih ada sedikit memendam perasaan, terus menyimpan keraguan...
Well, untuk menghilangkan perasaan yang tidak diinginkan itu butuh waktu dan kesibukan. Kok tidak diinginkan? Ya, karena memang aku tidak mau untuk merasakan perasaan yang tak berbalas itu...
Ketika duduk di bangku perkuliahan pun bahkan tak lepas yang namanya punya rasa dengan orang lain... Saya mengambil jurusan psikologi. Semester 1 masih datar.... Menjelang semester 2 tuh sudah mulai banyak perilaku kecil-kecil yang dilakukan terhadap saya, seperti bercanda terhadap saya ataupun sesekali menggelitiki saya dan beberapa tindakan lainnya (hak saya dong, saya ga mau nyebut semua :p) , dan saya pun juga senang mendapat beberapa perilaku kecil-kecil tersebut. Awalnya canggung, tetapi karena sudah berteman dan sering bertemu, ya saya anggap biasa. Tak disangka, beberapa perilaku tersebut malah menumbuhkan rasa di dalam hati saya... Eaaa
Masih di semester 2, saya masih menahan rasa tersebut, karena saya tidak ingin mengulangi lagi kejadian-kejadian yang lalu.. Perasaan yang dipendam itu masih bisa ditoleransi.
Hingga pada saat memasuki semester tiga, saya merasakan bahwa tubuh dan hati ini semakin ingin mendesak keluar. Saya masih berkukuh untuk memendam rasa tersebut, saya tidak tahu ternyata rasa untuknya sedemikian rupa betul dan nyata. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, desakan untuk mengatakan perasaanku kepadanya makin kuat. Dasar, saya yang keras kepala, saya masih terus memendam, hingga pada suatu hari, saya merasa tak mampu untuk menahannya lagi. Dada saya sesak. Ya, sesak sekali. Saya merasa kalau saya memendam terus menerus, akan berakibat tidak baik bagi mental saya, akhirnya saya memutuskan untuk berterus terang kepadanya.
Saya akhirnya menetapkan apapun yang terjadi, saya akan menerima dengan lapang dada, saya menyiapkan diri terhadap kemungkinan yang akan terulang lagi. Pada saat saya berterus terang, ia kaget, mengapa bisa ia?, saya pun menjawab tidak tahu, karena saya merasakan perasaan itu tumbuh seiring dengan waktu. Saya berterus terang bukan secara langsung, namun melalui sebuah aplikasi messenger . Saya sempat takut bahwa ia akan menjauhi saya seperti kejadian di waktu SD, ternyata perkiraanku salah. Ia baik sekali. Ia terbuka dan mau menerimaku. Sampai sekarang pun saya masih sering ngobrol, lebih banyak sih melalui aplikasi messenger. Ketika saya ingin melakukan yang saya mau bersama ia, saya meminta izin kepadanya, dan ia mau melakukannya dan lagi-lagi saya berhutang banyak terima kasih. Saya merasa lega setelah mengungkapkan semua yang ada di hati saya terhadapnya.
Yeah, dunia perkuliahan yang membuka mata hati dan pikiran. Kegiatan bersosialisasi, kegiatan kuliah yang mengajarkan banyak hal, termasuk hal untuk belajar terbuka, dan juga kalau ada keinginan yang ingin dilakukan bersama orang tersayang, entah teman atau orang yang disukai, selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, mengapa tidak? Tentunya sudah dibicarakan dong sebelumnya dengan pihak yang bersangkutan :)
Terbuka itu bagus, tapi.... harus melihat situasi dan kondisi. Kadang harus tahu pula kapan harus memendam dan kapan harus terbuka terhadap orang lain :)
Terima kasih sudah mau membaca tulisanku yang panjang lebar :)
Posted at Facebook , 15/11/2013 ; 23:16