Sabtu, 14 Mei 2016

Suka

Perasaan tertarik pada seseorang merupakan hal yang mendasar dalam sebuah proses, sebelum mengenal orang tersebut lebih jauh.
Sebelumnya aku tidak tertarik dengannya, bahkan aku bisa membaca gerak-geriknya yang tertarik denganku. Entah mengapa, aku jadi tertarik dengannya hanya gara-gara dia adalah pendengar yang baik juga humoris. Mulai dari situlah, kita beberapa kali chatting, dan aku merasa sedikit demi sedikit bisa tahu mengenainya lebih banyak. Sedikit demi sedikit  mencoba memberikan perhatian padanya.
Bahkan kita sudah saling tahu nama panggilan yang jarang terdengar di kampus.

Semakin sering pula aku berharap, semakin mudah pula mendapatkan rasa kecewa dan tidak bisa berlapang dada. Siapa yang mengingatkan? Diriku sendiri, dari sisi logika. Logika ini mengingatkan dan menyadarkan pula untuk tidak berharap terlalu banyak. Manakalanya untuk membuat perasaan ini tidak berharap terlalu banyak terlihat susah. Apakah bener susah banget? Iya susah. Tapi mau tak mau dijalani saja, proses mengendalikan perasaan. Sampai kapan perasaan ini mau dikendalikan? Sampai sadar dengan kenyataan.

Apa sih yang membuatmu berharap lebih darinya? Aku merasa nyaman, dan senang saat dia mau berbagi cerita, mimpi-mimpinya, dan whatever . Aku mau jadi teman berbaginya. Ya, aku juga berharap dia merupakan pasangan hidup yang cocok. Sempat baper (bawa perasaan), yang kemudian ditampar oleh logika untuk tidak berharap terlalu jauh dan juga tidak tahu apakah dia memang benar-benar menyukaiku? Karena ketidakpastian ini, aku memutuskan untuk pelan-pelan mundur. Mundur dari keinginan untuk bisa bersamanya, mundur dari keinginan untuk bisa menjadi bagian hidupnya. Pelan-pelan untuk mengurangi perhatian yang kuberikan.

Proses mundur itu juga tak mudah. Di satu sisi, aku ingin tetap akrab dengannya di sisi yang lain aku harus belajar merelakan kalau memang belum waktunya, dia menyukai sebagai teman, dan bisa jadi dia sudah menyukai perempuan lain. Slow but sure, aku harus bisa bersikap biasa namun masih terkesan akrab. Akupun menyadari kalau ada beberapa teman yang bisa membaca gerak gerikku terhadapnya. Semudah itukah gerak gerikku terbaca olehmu, teman? 😶

Hai kamu, aku ingin bersikap biasa saja. Tapi bagaimana? Aku pun juga bingung. Aku sempat melihatmu bagaimana kau salah tingkah di hadapanku. Will be it's okay that we keep this feeling from each other? Kalau iya, mari kita jalani sebagaimana seperti biasanya kita berinteraksi, meski itu akan menorehkan (mungkin) perasaan rindu, kecewa, dan senang yang bercampur menjadi satu.

27/5/2016
G.

Rabu, 11 Mei 2016

Perasaan Suka

Di saat kamu lagi suka sama seseorang, kamu akan berusaha mencari tahu banyak tentangnya. Entah mengobrol langsung padanya ataupun stalking media sosialnya. [Itu benar terjadi pada diriku]. Tapi bagaimana jika orang tersebut jarang update media sosialnya? Otomatis mau stalking, jadi susah. Betul tidak?

Cara yang paling mungkin dilakukan adalah mengobrol/ajak chat. Sebenarnya rasa suka ini rasa suka dalam hal apa? Rasa suka yang kurasakan ini adalah rasa suka sebagai teman,walau tak dipungkiri ada sebersit rasa ingin untuk menjadikan dia sebagai calon pacar [lho ternyata yang disuka itu lawan jenis ya,iya dia lawan jenis], tetapi rasanya biarlah tahu banyak tentangnya dulu baru diputuskan. Kenapa bisa suka sama dia? Yah enggak tau. Aku ngerasa nyaman. Dia juga pendengar yang baik.

Walaupun hanya sebatas teman, kadangkala kamu bisa merindukan beberapa hal darinya [soo damnn truee😭]. Bahkan tanpa disadari kamu bisa merindukan senyum dan gayanya.

Kenapa rasa suka  lebih menonjol ke lawan jenis yah? Kalau ke sesama jenis,perasaan yang timbul adalah senang dan nyaman. Mungkin arti dari perasaan suka itu cenderung relatif bagi beberapa orang.

11/05/2016