Sometimes, i feel that the life is full of bullshit.
Jumat, 18 Desember 2015
Senin, 30 November 2015
Bersabar
Kata itu yang membuatku tertampar berkali-kali pula. Berkali-kali pula tidak kapok untuk mencoba hal yang sama, walaupun tahu hal tersebut tidak akan berhasil. Kali ini aku berusaha untuk mendengarkan kata hati untuk bersabar. Bingung ya? Dalam hal apa dulu perlu bersabar? Sebelum kulanjutkan, aku ingin mengatakan bahwa bersabarlah terhadap segala keadaan yang sedang dialami. Kisah yang kutulis ini adalah sabar dalam hal menginginkan pasangan :")
Pernah mengalami keadaan sulit? Semua pasti pernah. Keadaan sulit yang dialami oleh orang-orang pasti berbeda. Hanya saja tingkat sabar setiap orang juga berbeda. Ada yang bisa tahan dan bersabar, tidak panik, tetap berusaha sampai keadaan sulit tersebut selesai dan bisa terlewatkan, atau bahkan masih ada yang masih berjalan keadaan sulitnya, namun ia masih mau bersabar sampai ia mendapatkan jawabannya.
Ada pula yang tidak sabar, panik mencari segala cara agar keinginannya tercapai, dan apa hasil yang didapat? Ada beberapa jawaban seperti, mungkin dia berhasil mencapai keinginannya, tetapi tidak berjalan dengan mulus serta ketahanannya tidak terasah. Atau bisa saja dia tidak berhasil mencapai keinginannya, malah menimbulkan masalah baru. Hal tersebut bisa berlaku sama dalam hal ingin mendapatkan pasangan.
Keinginan untuk mendapatkan pasangan tentunya menjadi idaman setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Pasangan yang diinginkan oleh setiap individu berbeda-beda. Begitupula dengan diriku. Aku juga tidak menolak bahwa akupun juga mempunyai keinginan tersebut. Beberapa kali berusaha menjalin hubungan dengan lawan jenis, dapat dilihat bahwa kesemuanya tidak berjalan dengan mulus.
Sering di dalam proses tersebut, aku merasa tidak sabar khususnya ketika mulai menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, hasilnya? Aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Lama kelamaan aku menyadari bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempunyai pasangan. Kenapa? Di lihat dari segi emosional, aku masih belum cukup stabil. Sampai sekarang ini, aku masih berusaha untuk mengingatkan diriku sendiri saat keinginan "duh aku pengen sama dia, pengen deket sama dia." Pengen pengen pengen yang tidak ada habisnya. Di saat keinginan tersebut muncul, aku menyadarkan diriku dengan " Tuhan berikanlah aku hati yang sepertiMu. Penuhi aku dengan cinta dan kasihMu sebelum aku bisa mencintai laki-laki yang akan menjadi pasangan hidup. Berikan aku kekuatan untuk menjalani semua ini. Berikan aku hikmatMu." Kelihatan klise, tetapi kata-kata itu cukup menyadarkan diri sendiri yang sedang terbang di khayalan.
Dalam proses menyadarkan diri sendiri untuk selalu berpijak dengan tanah, bukanlah hal yang mudah. Ya, aku mengakui bahwa hal tersebut sangat sulit, tetapi, dengan bantuanNya, semua itu dapat dilalui. Dapat dilalui, walaupun prosesku berjalan dengan lambat. Dari hal inilah, aku belajar untuk bersabar, tidak memaksakan kehendak, belajar untuk menerima kenyataan (ikhlas), dan mendoakan orang tersebut.
Tidak hanya bersabar, tetapi juga ku selalu diingatkan bahwa tidak ada kebetulan di dalam tangan Tuhan. Ada dua orang selama aku menjalani KKP (Kuliah Kerja Praktek) yang selalu mengingatkan untuk selalu dekat dengan Tuhan, beberapa kali pula aku menemui ayat ataupun cerita inspirasi yang intinya adalah bersabar, dan percayalah akan rencana Tuhan, rencana Tuhan selalu tepat waktu.
30/11/2015
Ditulis saat sedang mengagumi dan ingin seseorang tersebut menjadi pasangan hidup, tetapi rasanya sekarang bukan waktu yang tepat.
Sabtu, 14 November 2015
Jumat 13 November 2015
Post ini dibuat ketika sudah melewati hari Jumat 13 November 2015.
Ada yang spesialkah pada tanggal itu? Tidak ada yang spesial, tapi sangat luar biasa positif.
Pagi hari ke Ragunan dari BSD naik Go-Jek.
Sukanya: jadi tau jalan, yaa walaupun tidak hafal seketika; ada suasana baru; sampai juga di Ragunan sehat walafiat
Dukanya: abang gojek agak ngebut pas lewat polisi tidur, gak semua ngebut sih tapi tetap saja tidak enak; kalau lagi berhenti di dekat mobil, panasnya astaga... kayak di neraka*lebay ; panas dan matahari cukup terik jam 10-11an.
Pulangnya dari Ragunan hujan sebentar, untung naik bis kopaja AC S602 , 6000 ribu rupiah saja. Sesampainya di kampus, istirahat sebentar dan bertemu dengan dospem tercinta, gaul, keceh, dan baik untuk bimbingan seminar... ternyata ada teman lain juga, tidak sendirian deh untungnya. Thanks God, this teacher is so nice. Lumayan dapat pencerahan baru :")
Selesai bimbingan seminar mendung dung dung...
Kubergegas ke UPM mengambil buku untuk dikembalikan ke perpustakaan, lalu balik lagi ke UPM mengambil dompet dan pergi membeli reward di Semanggi.
Sepulangnya dari Semanggi, tidak lama kemudian hujan deras! Nunggu beberapa waktu, lalu akhirnya berangkat bertiga menembus hujan. Sempat kehujanan, celana dan sepatu basah. Sempat mau balik ke kampus, tapi untungnya ada kopaja 19... yeah akhirnya kopaja lewat inilah mengantarkan kami ke depan SCBD dan menyeberang dehh ke Plaza Pacific lewat terowongan yang di bawah... thanks kopaja 19, karenamu kami bisa melakukan wawancara walau keadaan celana sudah setengah basah dan sepatu sudah sangat basah. Wawancara ini berlangsung dengan kondusif, walau agak kedinginan.
Pulangnya dijemput mama dan supirnya sepupu! Dibawain roti 😁. Fyi: ngak makan nasi hari itu. Pagi makan bihun ayam. Baru makan lagi jam 16.00 dan makan crepes tuna doang, malemnya makan roti dan minum jus tomat 😂😂😂
Sesampainya di rumah, isengin dede sebentar, bantu beresin dede sama mama, terus mandi deh.. 😂😂
So walau kehujanan, tanggal 13 hari Jumat pula, aku mau memandang tanggal itu dengan positif. You're so amazing God!😊
Senin, 17 Agustus 2015
Pada akhirnya, diri ini kan tahu...
Let it go Grace, ynng penting sudah berkenalan dan tahu sedikit tentangnya!
Terima kasih untuk kesan singkat selama magang ini...
Dirimu adalah pemain gitar laki-laki yang cepat belajar, dekat dengan anak-anak, iseng, jago olahraga...
See you on the top!
17.08.2015
01.27 am
Selamat hari jadi Indonesiaku!
Jayalah selalu...
Minggu, 16 Agustus 2015
MENGENALMU
Baru menulis blog ini lagi...
Saat ini sekarang aku sudah duduk di semester 7, woah, time flies so fast... Perasaan masih hepi-hepi, masih leyeh-leyeh sambil baca komik atau novel... Sekarang sudah tidak bisa, makin naik tingkatan, yaaa SKS yang diambil boleh jadi tinggal sedikit, namun tugasnya bikin cape dan agak kewalahan, syukurnya aku bisa melaluinya, berkat bantuan Tuhan dan teman-teman kelompok yang mau kerja semua :D
Waktu berjalan seperti roda, ada kalanya hidup terasa mudah, adapun juga yang sulit, ada yang senang, ada yang sedih. Makin ke sini, makin tahu apa yang aku mau. Tak jarang juga aku berpikir sendiri dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dijawab sendiri dalam hati. Pertanyaan yang muncul contohnya "kok gue suka ya sama dia?", "kenapa harus dia?", "ngak salah kamu? sama orang yang beda jauh dan lebih muda lagi?" begitu banyak pertanyaan yang terkadang muncul dengan tiba-tiba dan menimbulkan perasaan-perasaan mulai dari bingung, galau, sebel, senang, dan ada perasaan yang tak dapat digambarkan.
Memangnya di semester-semester yang lalu tidak tahu apa yang diinginkan? Sebagian ada yang tahu, sebagian ada yang tidak, dan parahnya tidak sabaran, yang akhirnya jadi senjata makan tuan. Saat pertengahan semester 6 sampai sekarang, aku lebih bisa bersabar, walau terkadang pikiran-pikiran yang tak diinginkan (kebanyakan soal pasangan hidup #curcol hahaha) tersebut suka bikin greget. Ketika pikiran-pikiran tersebut muncul, kadang berkhayal, seandainya kalau terjadi bagaimana.
Selain menyadari hal yang aku mau, aku juga menyadari bahwa saya juga tidak menyukai seseorang. Di satu sisi aku membutuhkan figur laki-laki (ini berbeda dengan seseorang yang disebutkan sebelumnya) yang bisa mengerti perempuan, di sisi lain aku tidak senang dengan seseorang tersebut. aku tidak menolak kenyataan yang terjadi, hanya saja kadang terasa sulit bagiku untuk memahami di saat yang aku suka dan tidak suka bercampur menjadi satu, seperti tak ada batas di antara keduanya.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca :)
H-1 menjelang hari kemerdekaan.
16/8/2015
Menandakan bahwa diri ini belum sepenuhnya Merdeka dari diri sendiri.
Diri yang Merdeka adalah diri yang bisa kenal dirinya, yang bisa melawan dirinya sendiri, dan menang atas diri sendiri :)
Perdebatan
Perdebatan ini sudah berlangsung dengan lama. Perdebatan ini dimulai dari semester satu hingga sekarang. Aku berharap perdebatan ini tidak berlanjut sekian lama, tetapi aku tidak tahu apakah perdebatan ini dapat selesai begitu saja, karena aku merasa setelah berdiskusi pun, aku merasa tidak puas. Aku ingin mencari lebih jauh lagi dari teman-temanku maupun dengan orang lain.
Pembaca yang terkasih, perdebatan ini mengenai sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh lawan jenis dan sikap-sikap yang boleh dilakukan maupun tidak boleh dilakukan dalam konteks berteman atau bersahabat. Pembaca yang terkasih, bukan maksudku untuk menyinggung pembaca yang merasa pernah melakukan hal serupa, namun ini lebih merupakan suara hati yang telah terpendam selama 2 tahun lebih. Aku hanya berharap masalah ini bisa selesai dengan segera. Pembaca dapat memberikan komentar pada tulisan ini, segala komentar akan diterima dengan senang hati, karena tujuan bagi aku adalah untuk menambah pengetahuan ataupun jika pembaca tertarik untuk membahasnya, dengan senang hati aku membuka diri pada pembaca.
Silahkan membaca :)
Aku besar di keluarga yang menekankan untuk tetap pada norma. Walaupun tidak 100% mematuhi norma yang ada, aku merasa aku agak terkungkung di dalam ajaran-ajaran untuk tunduk pada norma yang ada. Kalau 100% mematuhi norma, sudah dapat dipastikan, aku hanyalah manusia robot. Aku tidak mau menjadi manusia robot. Aku pikir, sesekali manusia perlu membuat kesalahan, kesalahan yang dapat mengajarkan manusia untuk lebih bijaksana dan dewasa. Kesalahan akan selalu terjadi di sepanjang hidup manusia, bentuknya bisa sama maupun berbeda, hanya saja yang membedakannya adalah cara manusia ketika menghadapi kesalahan itu.
Nah, langsung saja ke topik yang ingin aku bahas. ^^
Pembaca telah mengetahui bahwa aku besar di keluarga yang hampir seluruhnya selalu mematuhi norma yang ada dan mengalami perdebatan. Pembaca yang terkasih, awalnya perdebatan ini terjadi ketika aku duduk di semester satu. Beberapa bulan setelah duduk di semester satu, sebut saja dia A, si A ini sering sekali menggelitiki aku dan juga beberapa temanku yang perempuan. Tidak hanya digelitiki, beberapa kali si A ini sering merangkulku, bukan hanya merangkul aku saja, tetapi merangkul beberapa teman perempuan yang lain
Minggu, 26 Juli 2015
Tembok(if you understand whose i mean :))
Kalau bukan dirimu, siapa lagi yang bisa mengangkat dirimu?
Sebuah analogi yang mengena sekaligus susah unuk dilaksanakan.
Di saat sisi dirimu yang satu tidak ingin melakukan apa-apa, sisi dirimu yang lain memaksa dirimu untuk keluar dari keadaan tersebut.
Jika sisi yang ingin melakukan lebih kuat, ya betul memang akan mengerjakan, tetapi akan sangat terpaksa.
Jika sisi yang hanya ingin berdiam lebih kuat, muncul rasa kemalasan yang luar biasa, hanya bersantai di depan gadget.
aku hidup sekarang, rasanya seperti terjepit di dua tembok
Tembok yang lain ingin aku sukses, tetapi tembok yang sama itulah menginginkan aku sukses tidak ingin bersusah lebih repot. Aku tidak diijinkan untuk melakukan semuanya sendiri.
Kamu tahu? Tembok itu adalah penghalang bagiku. Tidak hanya tembok tersebut, ada tembok kecil yang juga menjadi penghalang. Mudah bagiku untuk pergi dari tembok itu, tetapi aku tak bisa meninggalkan tembok kecil . Sang tembok kecil masih butuh bantuan aku. Tembok-tembok itu juga tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik jika aku pergi untuk hidup sendiri tanpa ada kekangan.
Memang enak hidup bersama dengan mereka. Kebutuhan finansial, sandang, dan pangan terpenuhi, namun aku merasa tidak nyaman karena perilaku salah satu tembok itu.
Aku benci, aku tidak suka dengan salah satu tembok itu, tapi aku masih membutuhkannya. Serba salah. begitu salah begini salah.
Betul betul sangat tidak menyukai tembok itu.
Kalau begini, aku bisa apa? Selain berbicara pada diri sendiri dalam hati.