Jumat, 30 September 2016

Hymne Guru

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendikia

Lagu di atas merupakan lirik dari Hymne Guru. Saat jam kerja telah usai, dan aku sedang menuruni tangga bersama dua rekan kerjaku. Salah satu rekan kerjaku berkata, "kalau perjalanan pulang, saya paling suka denger lagu sedih." Dia menyebutkan lagu Hymne Guru. Agak menyesal karena tidak bertanya lebih lanjut pada Mr. M -_- 
Sesampainya di rumah, aku terpikir lagi dengan perkataannya,"suka sama lagu Hymne Guru. lagunya sedih."
Aku kemudian mencari di situs pemutar musik seperti www.deezer.com , aku sering mendengarkan lagu dari situs ini. Walau aku tak bisa mendengarkan seluruh kata-katanya, tetapi aku bisa merasakan emosi dari lagu tersebut.
Saat aku mendengarkan lagu Hymne Guru tersebut, betul agak sedih. Lagu tersebut jugalah mengingatkanku semasa SMA. Seingatku, di SMA setiap tanggal 25 November, yang merupakan Hari Guru, murid-murid selalu disatukan dalam aula dan menyanyikan lagu Hymne Guru untuk guru-guru. Tidak terlukiskan bagaimana perasaan waktu menyanyikan lagu itu bersama teman-teman dan aku bisa merasakan bahwa nyanyian itu dinyanyikan dengan sepenuh hati. Aku merasa terharu dengan lirik tersebut. Ingin kumengulang lagi perasaan tersebut, menyanyikan dengan sepenuh hati untuk guru-guru. Agak disayangkan, karena semasa perkuliahan, Hari Guru tersebut tidak terlalu berkesan dan hanya sekedar lewat saja.

Tetapi, siapakah guru itu?
Bagi aku, guru itu tidak hanya orang yang mengajar di sekolah ataupun di kampus. Bagi aku, guru itu mencakup semua sumber daya. Guru yang paling mahal dalam kehidupan adalah pengalaman. Pengalaman tersebut bisa berasal dari pengalaman sendiri ataupun pengalaman orang lain. Mau ada kesan atau tidaknya pengalaman tersebut, tentunya sudah meninggalkan jejak di pikiran dan di hati.
Dalam pengalaman yang sedang dialami, selalu ada beragam orang yang bersamaku menjalani perjalanan tersebut.
Setelah aku melihat perjalananku ke belakang, secara tidak langsung aku menyadari bahwa pengalaman itu telah membentukku, mengajarkanku sesuatu, dan mengajarkanku untuk selalu bersyukur. 

Segala sumber daya pun bisa menjadi guru, bahkan diri sendiri, tumbuhan dan binatang bisa menjadi guru untuk dirinya sendiri dan mahkluk hidup lainnya.
30/9/2016

Lika-liku perkuliahan menuju S.Psi!

Lama tidak menulis blog, tahu-tahu sudah lulus dan dilepas fakultas sebagai sarjana. Ya, aku bersama dengan teman-teman yang lain telah dilepas menjadi Sarjana Psikologi yang bisa disingkat menjadi S.Psi.
Untuk sesama angkatan 2012, tentunya perjalanan selama 4 tahun ini bukan hal yang mudah. Ada saatnya masing-masing orang bisa happy, ada saatnya masing-masing orang down. Down karena target tidak tercapai, hasil kurang memuaskan, dan banyak sebab yang lainnya termasuk dalam pembuatan seminar,skripsi, pencarian subjek penelitian.

Aku sebagai salah satu dari angkatan 2012 yang sudah lulus, tentunya merasakan hal yang sama. 4 tahun tersebut lewat begitu saja. Ada beberapa momen yang aku sesalkan tidak bisa terwujud, hanya menjadi imajinasi.

Selama perkuliahan tersebut, sangat sulit untuk menjaga pikiran untuk selalu tetap dalam keadaaan yang positif. Seringkali aku berasumsi bahwa "orang ini ngomongin gua nih dari belakang. gua ga nyaman. gua merasa tidak diterima." Tapi dari hal itulah aku berusaha untuk tidak membuat asumsi-asumsi yang akhirnya berujung kalimat-kalimat tersebut menjadi terwujud. Istilah kerennya dalam bahasa psikologi, yaitu self fulfilling prophecy. Ceilah, keren ye bahasanye. :D
Karena tahu self fulfilling prophecy itu sangat besar kemungkinannya terjadi, aku berusaha untuk mengabaikan pikiran tersebut. Usaha tersebut tentunya dimulai lagi dari pikiran.
Aku mengingatkan diriku sendiri, bahwa semua itu selalu berawal dari pikiran. Tidak semua teman bisa menerima keadaanku, tetapi yang penting adalah aku jarang mempunyai konflik dengan teman. Hal itu membantu, walau tidak terlalu dekat, tetapi setidaknya masih bisa berinteraksi seperti biasa.

Pikiran yang positif juga berperan dalam pembuatan seminar-skripsi. Orang yang paling support dalam pembuatan skripsi ini justru datang dari papa. Papa jugalah yang paling banyak membantu aku dalam brainstorming pembuatan seminar-skripsi, menyediakan waktu untuk berdiskusi padahal badannya sedang capek. Papa tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa semua ini adalah proses ketika mendapati aku sangat down, terlihat tidak puas dengan hasilnya, tidak mendapat ide baru, kebingungan untuk menuliskan kalimat ataupun menyusun kata dalam kalimat.
Kalimat yang diucapkan tidak selalu sama persis dengan "semua ini adalah proses", tetapi dengan "tidak apa, ini namanya pembelajaran. Kamu jalani saja," "Ini adalah pembelajaran buat kamu, tidak apa tidak perfect. Namanya juga proses." Support dari papa justru itu yang membuatku tetap bertahan untuk melanjutkan pembuatan seminar-skripsi.

Selain support dari papa, support dari mama juga ada, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Aku sering memintanya untuk dipeluk. Bagiku, pelukan dari mama lebih dari cukup. Menenangkan dan nyaman rasanya berada di pelukan mama. Mama juga selalu mendorong aku yang sedang galau saat berkata "duh mama, males ngampus, belum ada progress nih," "progress baru dikit, ngampus gak ya?". Tapi karena sebelumnya aku pernah cerita ke mama kalau dosen pembimbingku (dospem) ini mau ada progress atau tidak, datang saja, alhasil mama selalu mendorong aku untuk tetap ngampus, mau progressnya ada ataupun tidak ada. Rasa malu dan takut dengan dospem pun bercampur menjadi satu.

Tidak hanya orangtua, dosen pembimbingku juga sangat support. Beliau sangat sibuk, tetapi masih menyisihkan waktu untuk bimbingan. Ada satu waktu, aku ditegur oleh beliau, karena aku tidak bisa menentukan idenya mau bagaimana. Aku tahu teguran beliau tersebut untuk kebaikanku sendiri, aku juga belajar untuk menentukan mana yang akan aku pakai, aku belajar untuk bisa mengemukakan pendapat, belajar untuk berargumentasi.
Aku teringat di mana ketika aku sudah mendapatkan jadwal maju sidang, aku tidak merasa cemas sedikit pun. Mungkin sekitar seminggu sebelum maju sidang, aku sedang di kampus untuk belajar bersama dengan grup bimbingan (tapi waktu itu kayaknya ga jadi :"). Sebelum aku pulang, terbersit untuk minta dipeluk beliau. "duh, mau minta dipeluk sama Mbak A," "gak usah ah, takut gue,"  ujung-ujungnya akhirnya memantapkan "minta aja deh (sambil masuk ruang kerjanya)." Beliau sempat bingung melihat kehadiranku di ruangan kerjanya,tetapi setelah aku berkata "Mbak, maaf ganggu sebentar, tapi boleh ngak aku minta dipeluk." Kebingungan beliau luntur dan berkata "ya ampun." Beliau membuka tangannya dan memelukku dengan erat. Aku sempat menangis karena takut dan panik. Beliau menenangkanku dan mengingatkan supaya banyak berdoa. 

Tuhan, terima kasih karena aku sudah dipimpin dalam prosesku belajar melalui orangtua, dospem, dosen PA, teman-teman semasa perkuliahan. :")

Tidak hanya mereka bertiga, tentunya ada beberapa teman yang menjadi tempat tukar cerita, menjadi tempat berkeluh kesah. Kalau bukan karena bantuan Tuhan, support dari orangtua, dospem yang tercinta, teman-teman, mungkin aku belum tentu bisa lulus tepat waktu dan meraih gelar S. Psi. 
Walau bukan dengan predikat yang cum laude, setidaknya masih lumayanlah daripada tidak. 
Dan... besok wisuda tanggal 1 Oktober 2016 :D


-Teruslah belajar semasa masih hidup-
-nobody is perfect, so let it flow-
30/9/2016