Happy reading! :)
Kepada pembaca yang terkasih, sering mendengar kata presentasi? Saya yakin pembaca sudah sering mendengar kata tersebut, bukan hanya sering mendengar, melainkan mempraktikkannya. Kata "presentasi" ini berada di berbagai lingkup, tidak hanya dunia perkuliahan saja tetapi berbagai jenjang, baik SD,SMP, dan SMA, walaupun jumlah presentasi di jenjang SD-SMA tersebut terbilang jarang dibandingkan dunia perkuliahan. Pembaca juga jangan melupakan, bahwa presentasi tidak hanya di ranah dunia pendidikan, tetapi presentasi ini juga berada di ranah pekerjaan.
NB: ketika menulis blog tentang ini, saya sedang duduk di bangku perkuliahan semester 5.
Siapa yang hatinya merasa keder ketika tiba waktu bagi dirinya untuk mempresentasikan hasil/ laporan/ karya pribadi maupun individu? Setiap orang mempunyai kecemasan dan ketakutannya sendiri, ada orang yang dapat mengatasi kecemasan dan ketakutannya dengan cara berlatih terus menerus. Adapula orang yang walaupun sudah berlatih, masih terdapat demam panggung. Jujur saja, saya ini sebenarnya tidak takut untuk presentasi, tetapi lebih ke arah tidak suka melakukannya. Suka atau tidak, mau lancar atau tidak, pada akhirnya saya akan terus melakukan yang namanya presentasi.
Presentasi dapat dilakukan secara individu ataupun berkelompok. Umumnya presentasi di ranah pendidikan sering dilakukan secara berkelompok, namun ada kalanya presentasi dilakukan secara individual. Berdasarkan hasil pengamatan, presentasi yang dilakukan di ranah pekerjaan, dilakukan secara individual. Begitu besar perbedaannya.
Sering kali saya berangan-angan, saya dapat membawakan sebuah atau dua buah ataupun beberapa presentasi dengan lancar, tanpa terbata-bata. Saya benci dengan diri saya yang harus terbata-bata. Saya juga menyadari bahwa diri saya lemah di bidang yang membutuhkan keterampilan menjelaskan dan berbicara di depan umum dengan lancar. Kalau boleh memilih, saya ingin jadi observer saja, bagi saya, menjadi observer jauh lebih dapat saya lakukan lebih lancar dibandingkan ketika saya harus berbicara di depan orang banyak.
Selama saya masih hidup, kemungkinan keharusan untuk melakukan presentasi akan selalu ada dan saya tahu bahwa saya tak bisa menghindari hal tersebut, walaupun saya ingin menghindarinya atau tidak melakukan presentasi. Saya juga lebih memilih menjelaskan kepada beberapa orang atau maksimalnya 10 orang, lebih dari itu, saya seringkali kehilangan kontrol untuk mengendalikan kegugupan diri saya yang muncul, dan hal ini tersebut juga mengajarkan secara tidak langsung, cara mengendalikan diri selama presentasi. Saya mendapati bahwa jika saya gugup, saya selalu berusaha menyadari kalau saya gugup dan mengatur nafas saya agar saya dapat berbicara dengan wajar.
Tulisan ini hanyalah sebagai penunjuk bagi diri saya, untuk mengenali diri saya lebih jauh, dan sebagai pacuan agar saya bisa melakukan presentasi dengan baik dengan segala keterbatasan saya.
Terima kasih pembaca yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini, semoga dari tulisanku bisa memberikan inspirasi bagi pembaca semua :)
Senin, 27 Oktober 2014
Minggu, 17 Agustus 2014
Complicated mind.
humans is soo complicated!
ketika kamu punya banyak pertanyaan "mengapa", "bagaimana", dan sebagainya...
Saranku, lebih baik konfirmasikan sendiri ataupun bertanya pada orangnya langsung...
Jadi tidak usah menerka-nerka sendiri, membuat tidak tenang hati pula.
*pengalaman sendiri*
well, ketika kamu menanyakan langsung memang agak tidak enak tapi lebih enak kalau kamu sudah jujur.
Terkadang kita memilih untuk menyimpannya sendiri, dan hal itu malah membuat makin banyak pertanyaan.
semakin jujur dirimu terhadap orang yang bersangkutan, pikiranmu akan terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul. i just can't defying what am i feel...
Walau terkadang terlalu jujur menimbulkan pertanyaan tersendiri "kalo gw bersikap begini, apa sih yang di pikiran dia?" . Kadang muncul pula pikiran "gw aneh ya? terlalu jujur begini" dan banyak lagi hal lainnya. Aku capek dan sebel. Mengapa pula otak ini tidak bisa berhenti berspekulasi? Tidak bisa berhenti berekspektasi/ berharap pada sesuatu yang mustahil atau kecil kemungkinannya akan terjadi?
ketika kamu punya banyak pertanyaan "mengapa", "bagaimana", dan sebagainya...
Saranku, lebih baik konfirmasikan sendiri ataupun bertanya pada orangnya langsung...
Jadi tidak usah menerka-nerka sendiri, membuat tidak tenang hati pula.
*pengalaman sendiri*
well, ketika kamu menanyakan langsung memang agak tidak enak tapi lebih enak kalau kamu sudah jujur.
Terkadang kita memilih untuk menyimpannya sendiri, dan hal itu malah membuat makin banyak pertanyaan.
semakin jujur dirimu terhadap orang yang bersangkutan, pikiranmu akan terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul. i just can't defying what am i feel...
Walau terkadang terlalu jujur menimbulkan pertanyaan tersendiri "kalo gw bersikap begini, apa sih yang di pikiran dia?" . Kadang muncul pula pikiran "gw aneh ya? terlalu jujur begini" dan banyak lagi hal lainnya. Aku capek dan sebel. Mengapa pula otak ini tidak bisa berhenti berspekulasi? Tidak bisa berhenti berekspektasi/ berharap pada sesuatu yang mustahil atau kecil kemungkinannya akan terjadi?
Merdeka
Selamat hari kemerdekaan Indonesiaku!
Ya, kita telah merdeka dari penjajahan... Tapi pernahkah merasa bahwa Indonesia belum benar-benar merdeka? Masih ada sebagian yang hidup dibawah garis kemiskinan, sebagian pula dari mereka tidak dapat mencicip pendidikan maupun kehidupan yang layak.
Ayo, kita sebagai generasi muda yang bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan mendapatkan pendidikan. Kita bantu mereka yang berkekurangan, agar mereka bisa merdeka sepenuhnya.
Ya, terpikir bagiku agar bisa menciptakan sesuatu yang berguna bagi bangsa.
Aku hanya ingin Negara Indonesia menjadi negara yang sepenuhnya merdeka. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari pikiran yang sempit.
Sekali lagi, Selamat Hari Jadi Indonesia !
Ya, kita telah merdeka dari penjajahan... Tapi pernahkah merasa bahwa Indonesia belum benar-benar merdeka? Masih ada sebagian yang hidup dibawah garis kemiskinan, sebagian pula dari mereka tidak dapat mencicip pendidikan maupun kehidupan yang layak.
Ayo, kita sebagai generasi muda yang bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan mendapatkan pendidikan. Kita bantu mereka yang berkekurangan, agar mereka bisa merdeka sepenuhnya.
Ya, terpikir bagiku agar bisa menciptakan sesuatu yang berguna bagi bangsa.
Aku hanya ingin Negara Indonesia menjadi negara yang sepenuhnya merdeka. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari pikiran yang sempit.
Sekali lagi, Selamat Hari Jadi Indonesia !
Rabu, 21 Mei 2014
Finally, Fourth Semester has done!
Selasa, 20 Januari 2014- Rabu, 21 januari 2014
(ini bikinnya malam-malam tanggal 20, lanjut sampe subuh...) haha
Sorry yakk kalo ini panjang banget ceritanya :D :p
Finally, done!
Semester 4 telah berakhir! Tak ada lagi ujian maupun tugas-tugas...
Selesai sudah untuk semester 4, tetapi tidak dengan kegiatan UKM. hahaha... But it's Okay... :D
Semester 4
a. Kuliah
Tidak disangka, walaupun hanya mengambil 19 SKS, tetapi rasanya seperti mengambil mata kuliah FULL SKS. Jumlah SKS itu memang hanya 19 SKS, namun dengan adanya responsi dengan total 5 SKS, jadilah 19 SKS resmi + 5 "SKS bayangan." 24 SKS penuh sudah dari awal semester hingga UTS, setelah UTS, 24 SKS itu pun berkurang sebanyak 2 SKS... Hanya 2 SKS, tak banyak perubahan yang terjadi, semuanya sama saja, hanya saja makin sibuk.
Pada awalnya itu, aku ingin mengambil 21 SKS, tetapi karena aku berpikir, bakal padat banget, akhirnya pas RPM-an, aku mencoret satu mata kuliah pilihan, dan... ternyata... Semester ini dikatakan lumayan membuat stress, sampai membuat mukaku ini merah tak keruan, pasukan jerawat muncul di pipi....
Diingat-ingat lagi, aku pernah menahan tangis dari kampus. Menahan tangis itu tidak enak. Aku baru menangis di halte Bunderan Senayan, untung saja ketika aku menangis hari itu sudah agak gelap. Eh tapi, aku juga pernah menangis siang-siang di halte itu, untungnya orang-orang tidak peduli, aku hanya tidak mau ditanyakan alasan oleh orang-orang yang tak aku kenal. Jangan kira aku menangis dengan lepas begitu saja, aku menangis pun juga masih ditahan-tahan, hanya saja air matanya sudah keluar duluan. Aku memilih untuk tidak menangis di kampus, aku hanya tidak mau menunjukkan kepada orang-orang, tapi aku pernah menangis di kampus, aku sampai harus sembunyi di toilet beberapa lama, berjalan memutar hingga mukaku kembali normal dengan menahan tangis yang ingin keluar, namun aku melarang untuk keluar. Perasaanku sesak.
b. Tugas, kuis, dan ujian.
Di awal-awal masuk semester ini sudah diwanti-wanti bahwa semester 4 itu sangatlah padat. Setelah berjalan beberapa minggu kuliah, semester 4 ini pun mulai menunjukkan "taring-taringnya". Ketika di awal-awal "taring-taring" ini menunjukkan dirinya, aku masih santai-santai, masih bisa tahan tajamnya taring itu. Semua berjalan sangat cepat. Taring-taring, kesannya lebay yah? hahaha. Okay, memakai kata tugas dehh :D. Awal-awal memang sangat sopan, makin ke tengah, lumayan menyiksa mental... Dan menjelang akhir semester, makin tersiksa lah aku dengan teman-teman, selain harus mengerjakan tugas dari berbagai mata kuliah, deadline juga mepet-mepet... Sedih loh yaa tugas banyak, deadline tidak ramah. Syukurlah, aku dan teman-teman boleh dapat menyelesaikan tugas-tugas ini satu per satu, dengan baik, walaupun ada yang kurang, telat mengumpulkan, untungnya masih diterima oleh dosen :'")
Tadi seputar tugas, sekarang kuis dan ujian.... Dari semester 1-4 ini, ada perbedaan dengan sekolah biasa. Sekolah biasa rajin ulangan, kuliah rajin tugas, jarang kuis... hahahha. Memang betul, jarang ulangan dan kuis, itu pun hanya kuis beberapa kali, kalaupun ulangan jatuhnya di UTS dan UAS.. dan beberapa kali pun UTS dan UAS ini bukan ujian tertulis, melainkan take home. Kedengarannya enak? Enak karena bisa mengerjakan di rumah, tidak enaknya waktu terbuang ketika mengumpulkan tugas take home, bagi yang rumahnya dekat sih tidak menjadi masalah datang ke kampus hanya mengumpulkan dan tanda tangan. Kalau yang rumahnya jauh, lama di jalan daripada lama mengumpulkan serta menandatangani daftar absen. Hellooowww. Rumah jauh gini dateng ke kampus tanda tangan ga sampe 10 menit... ckckck. Tapi dari pemberian-pemberian tugas yang super banyak di semester 4 ini, aku belajar banyak. Belajar apa?
Belajar percaya orang, iya. Belajar mengatur prioritas, iya. Belajar multitasking, iya. Kenapa multitasking? Tugas kuliah yang banyak memaksa aku harus dapat membagi waktu, rumahku jauh :( . Tak jarang aku mengerjakan beberapa tugas di saat yang bersamaan, tetapi kulihat hasilnya, kurang maksimal. Tapi aku belajar lagi bahwa dari pengerjaan tugas yang multitasking hanya dapat dilakukan ketika tugas itu mudah dilakukan dan tidak membutuhkan pemikiran yang rumit. Kalau mengerjakan tugas yang membutuhkan pemikiran dan agak rumit, sangat tidak disarankan untuk multitasking, otakmu rasanya bakal pecah, so FOKUS saja sama satu tugas itu. Ini serius, tidak percaya? Coba aja.... hahaha :p. Selain belajar multitasking, tentunya belajar menikmati proses.. Belajar menikmati proses? iya. Di tengah-tengah tugas yang padat ini, terkadang membuatku ingin cepat-cepat untuk tiba di hasilnya, tapi aku bukanlah doraemon yang bisa mempercepat waktu. Aku hanya bisa menjalaninya, percaya atau tidak, sulit bagiku untuk menikmati proses ketika berada di bawah tekanan. Aku ingin menikmati proses itu, tetapi aku terlalu terpaku dengan deadline.
Ketika hasil tersebut itu ada, aku baru sadar proses-proses yang aku jalani justru membuat aku kuat, makin bertambah ilmunya, contohnya seperti MOW (Metode Observasi dan Wawancara dan METKUAL (Metode Kualitatif), aku belajar teori, tetapi juga belajar penerapannya. Bisa dikatakan, semester 4 ini walaupun jarang membaca textbook, dan lebih banyak prakteknya membawa banyak pelajaran yang dapat aku petik.
c. Orang tua dan teman-teman.
Sejujurnya, di semester 4 ini justru membuat hubungan aku dengan orang tuaku menjadi agak renggang. Menjelang pertengahan semester hingga akhir semester, aku menyadari aku semakin sibuk. Aku hampir setiap hari berkutat dengan laptop. Aku yang biasanya dapat mengobrol dengan orang tua, menjadi jarang karena padatnya tugas-tugas yang diberikan dari kampus. Ketika aku mengobrol dengan mama, ia juga mengatakan "akhir-akhir ini kamu menjadi sibuk", dan aku menjawab " iya", akan tetapi tidak renggang-renggang amat, karena ternyata walapun sibuk, orang tua masih berusaha untuk mencari waktu untuk mengobrol, walaupun hanya sebentar :"). Orang tua pun memaklumi jika aku sampai subuh belum tidur karena mengerjakan tugas :") . Aku pun masih dapat berdiskusi dengan papa walau hanya sebentar.. Thanks sekali untuk orang tua yang selalu mengerti, mau membantu aku, dan selalu mendukung aku di segala keadaan.. :") . I should be grateful for having parents like them.
Paragraf di atas menceritakan hubungan aku dengan orang tua, sekarang dengan teman. Karena tugas di semester 4 ini rata-rata berkelompok, ada baiknya juga, semakin mendekatkan aku dan teman-teman yang tidak dekat, dan mendekatkan lebih jauh dengan teman-teman yang aku sudah kenal. Sama-sama teman seperjuangan, sama-sama menghadapi dosen yang sama, berbeda pendapat itu hanya akan didapatkan di dalam kelompok. Bukan manusia yang normal namanya kalau selama tugas kelompok tidak mempunyai perasaan kesal ataupun sebel terhadap satu sama lain, tidak mungkin tidak ada, pasti ada. Aku merasa sesak, ingin mengeluarkan apa yang aku rasakan, sayangnya aku kebanyakan menyimpan kekesalan itu dalam hati, terkadang kekesalan itu bisa hilang dengan sendirinya.. well time heals.. :3. Semakin naik semester, aku berpikir dengan sudah nyamannya diri kita dengan peer kita masing-masing, sudah seharusnya kita memberikan umpan balik, saran, dan kritik, dengan catatan semua itu diberikan dalam artian positif, bukan menjatuhkan. Memaparkan fakta boleh, tetapi jangan menjatuhkan.
Ada pelajaran yang kudapatkan pula ketika bersama teman-teman, aku belajar untuk menyesuaikan diri dengan mereka, aku belajar untuk mengerti, belajar untuk toleransi kepada teman. Termasuk belajar jujur, mengungkapkan pendapat kepada orang lain, demi kebaikan orang tersebut sendiri. Terkadang, kejujuran memang menyakitkan, but it's better than you must lie to someone.
Banyak deh yang kudapat :")
Cerita ini sudah selesai. Terima kasih mau meluangkan waktu untuk membaca cerita yang panjang ini ...
:)
(ini bikinnya malam-malam tanggal 20, lanjut sampe subuh...) haha
Sorry yakk kalo ini panjang banget ceritanya :D :p
Finally, done!
Semester 4 telah berakhir! Tak ada lagi ujian maupun tugas-tugas...
Selesai sudah untuk semester 4, tetapi tidak dengan kegiatan UKM. hahaha... But it's Okay... :D
Semester 4
a. Kuliah
Tidak disangka, walaupun hanya mengambil 19 SKS, tetapi rasanya seperti mengambil mata kuliah FULL SKS. Jumlah SKS itu memang hanya 19 SKS, namun dengan adanya responsi dengan total 5 SKS, jadilah 19 SKS resmi + 5 "SKS bayangan." 24 SKS penuh sudah dari awal semester hingga UTS, setelah UTS, 24 SKS itu pun berkurang sebanyak 2 SKS... Hanya 2 SKS, tak banyak perubahan yang terjadi, semuanya sama saja, hanya saja makin sibuk.
Pada awalnya itu, aku ingin mengambil 21 SKS, tetapi karena aku berpikir, bakal padat banget, akhirnya pas RPM-an, aku mencoret satu mata kuliah pilihan, dan... ternyata... Semester ini dikatakan lumayan membuat stress, sampai membuat mukaku ini merah tak keruan, pasukan jerawat muncul di pipi....
Diingat-ingat lagi, aku pernah menahan tangis dari kampus. Menahan tangis itu tidak enak. Aku baru menangis di halte Bunderan Senayan, untung saja ketika aku menangis hari itu sudah agak gelap. Eh tapi, aku juga pernah menangis siang-siang di halte itu, untungnya orang-orang tidak peduli, aku hanya tidak mau ditanyakan alasan oleh orang-orang yang tak aku kenal. Jangan kira aku menangis dengan lepas begitu saja, aku menangis pun juga masih ditahan-tahan, hanya saja air matanya sudah keluar duluan. Aku memilih untuk tidak menangis di kampus, aku hanya tidak mau menunjukkan kepada orang-orang, tapi aku pernah menangis di kampus, aku sampai harus sembunyi di toilet beberapa lama, berjalan memutar hingga mukaku kembali normal dengan menahan tangis yang ingin keluar, namun aku melarang untuk keluar. Perasaanku sesak.
b. Tugas, kuis, dan ujian.
Di awal-awal masuk semester ini sudah diwanti-wanti bahwa semester 4 itu sangatlah padat. Setelah berjalan beberapa minggu kuliah, semester 4 ini pun mulai menunjukkan "taring-taringnya". Ketika di awal-awal "taring-taring" ini menunjukkan dirinya, aku masih santai-santai, masih bisa tahan tajamnya taring itu. Semua berjalan sangat cepat. Taring-taring, kesannya lebay yah? hahaha. Okay, memakai kata tugas dehh :D. Awal-awal memang sangat sopan, makin ke tengah, lumayan menyiksa mental... Dan menjelang akhir semester, makin tersiksa lah aku dengan teman-teman, selain harus mengerjakan tugas dari berbagai mata kuliah, deadline juga mepet-mepet... Sedih loh yaa tugas banyak, deadline tidak ramah. Syukurlah, aku dan teman-teman boleh dapat menyelesaikan tugas-tugas ini satu per satu, dengan baik, walaupun ada yang kurang, telat mengumpulkan, untungnya masih diterima oleh dosen :'")
Tadi seputar tugas, sekarang kuis dan ujian.... Dari semester 1-4 ini, ada perbedaan dengan sekolah biasa. Sekolah biasa rajin ulangan, kuliah rajin tugas, jarang kuis... hahahha. Memang betul, jarang ulangan dan kuis, itu pun hanya kuis beberapa kali, kalaupun ulangan jatuhnya di UTS dan UAS.. dan beberapa kali pun UTS dan UAS ini bukan ujian tertulis, melainkan take home. Kedengarannya enak? Enak karena bisa mengerjakan di rumah, tidak enaknya waktu terbuang ketika mengumpulkan tugas take home, bagi yang rumahnya dekat sih tidak menjadi masalah datang ke kampus hanya mengumpulkan dan tanda tangan. Kalau yang rumahnya jauh, lama di jalan daripada lama mengumpulkan serta menandatangani daftar absen. Hellooowww. Rumah jauh gini dateng ke kampus tanda tangan ga sampe 10 menit... ckckck. Tapi dari pemberian-pemberian tugas yang super banyak di semester 4 ini, aku belajar banyak. Belajar apa?
Belajar percaya orang, iya. Belajar mengatur prioritas, iya. Belajar multitasking, iya. Kenapa multitasking? Tugas kuliah yang banyak memaksa aku harus dapat membagi waktu, rumahku jauh :( . Tak jarang aku mengerjakan beberapa tugas di saat yang bersamaan, tetapi kulihat hasilnya, kurang maksimal. Tapi aku belajar lagi bahwa dari pengerjaan tugas yang multitasking hanya dapat dilakukan ketika tugas itu mudah dilakukan dan tidak membutuhkan pemikiran yang rumit. Kalau mengerjakan tugas yang membutuhkan pemikiran dan agak rumit, sangat tidak disarankan untuk multitasking, otakmu rasanya bakal pecah, so FOKUS saja sama satu tugas itu. Ini serius, tidak percaya? Coba aja.... hahaha :p. Selain belajar multitasking, tentunya belajar menikmati proses.. Belajar menikmati proses? iya. Di tengah-tengah tugas yang padat ini, terkadang membuatku ingin cepat-cepat untuk tiba di hasilnya, tapi aku bukanlah doraemon yang bisa mempercepat waktu. Aku hanya bisa menjalaninya, percaya atau tidak, sulit bagiku untuk menikmati proses ketika berada di bawah tekanan. Aku ingin menikmati proses itu, tetapi aku terlalu terpaku dengan deadline.
Ketika hasil tersebut itu ada, aku baru sadar proses-proses yang aku jalani justru membuat aku kuat, makin bertambah ilmunya, contohnya seperti MOW (Metode Observasi dan Wawancara dan METKUAL (Metode Kualitatif), aku belajar teori, tetapi juga belajar penerapannya. Bisa dikatakan, semester 4 ini walaupun jarang membaca textbook, dan lebih banyak prakteknya membawa banyak pelajaran yang dapat aku petik.
c. Orang tua dan teman-teman.
Sejujurnya, di semester 4 ini justru membuat hubungan aku dengan orang tuaku menjadi agak renggang. Menjelang pertengahan semester hingga akhir semester, aku menyadari aku semakin sibuk. Aku hampir setiap hari berkutat dengan laptop. Aku yang biasanya dapat mengobrol dengan orang tua, menjadi jarang karena padatnya tugas-tugas yang diberikan dari kampus. Ketika aku mengobrol dengan mama, ia juga mengatakan "akhir-akhir ini kamu menjadi sibuk", dan aku menjawab " iya", akan tetapi tidak renggang-renggang amat, karena ternyata walapun sibuk, orang tua masih berusaha untuk mencari waktu untuk mengobrol, walaupun hanya sebentar :"). Orang tua pun memaklumi jika aku sampai subuh belum tidur karena mengerjakan tugas :") . Aku pun masih dapat berdiskusi dengan papa walau hanya sebentar.. Thanks sekali untuk orang tua yang selalu mengerti, mau membantu aku, dan selalu mendukung aku di segala keadaan.. :") . I should be grateful for having parents like them.
Paragraf di atas menceritakan hubungan aku dengan orang tua, sekarang dengan teman. Karena tugas di semester 4 ini rata-rata berkelompok, ada baiknya juga, semakin mendekatkan aku dan teman-teman yang tidak dekat, dan mendekatkan lebih jauh dengan teman-teman yang aku sudah kenal. Sama-sama teman seperjuangan, sama-sama menghadapi dosen yang sama, berbeda pendapat itu hanya akan didapatkan di dalam kelompok. Bukan manusia yang normal namanya kalau selama tugas kelompok tidak mempunyai perasaan kesal ataupun sebel terhadap satu sama lain, tidak mungkin tidak ada, pasti ada. Aku merasa sesak, ingin mengeluarkan apa yang aku rasakan, sayangnya aku kebanyakan menyimpan kekesalan itu dalam hati, terkadang kekesalan itu bisa hilang dengan sendirinya.. well time heals.. :3. Semakin naik semester, aku berpikir dengan sudah nyamannya diri kita dengan peer kita masing-masing, sudah seharusnya kita memberikan umpan balik, saran, dan kritik, dengan catatan semua itu diberikan dalam artian positif, bukan menjatuhkan. Memaparkan fakta boleh, tetapi jangan menjatuhkan.
Ada pelajaran yang kudapatkan pula ketika bersama teman-teman, aku belajar untuk menyesuaikan diri dengan mereka, aku belajar untuk mengerti, belajar untuk toleransi kepada teman. Termasuk belajar jujur, mengungkapkan pendapat kepada orang lain, demi kebaikan orang tersebut sendiri. Terkadang, kejujuran memang menyakitkan, but it's better than you must lie to someone.
Banyak deh yang kudapat :")
Cerita ini sudah selesai. Terima kasih mau meluangkan waktu untuk membaca cerita yang panjang ini ...
:)
Langganan:
Komentar (Atom)