Senin, 17 Agustus 2015

Pada akhirnya, diri ini kan tahu...
Let it go Grace, ynng penting sudah berkenalan dan tahu sedikit tentangnya!

Terima kasih untuk kesan singkat selama magang ini...
Dirimu adalah pemain gitar laki-laki yang cepat belajar, dekat dengan anak-anak, iseng, jago olahraga...
See you on the top!

17.08.2015
01.27 am
Selamat hari jadi Indonesiaku!
Jayalah selalu...

Minggu, 16 Agustus 2015

MENGENALMU

Hai pembaca :)
Baru menulis blog ini lagi...
Saat ini sekarang aku sudah duduk di semester 7, woah, time flies so fast... Perasaan masih hepi-hepi, masih leyeh-leyeh sambil baca komik atau novel... Sekarang sudah tidak bisa, makin naik tingkatan, yaaa SKS yang diambil boleh jadi tinggal sedikit, namun tugasnya bikin cape dan agak kewalahan, syukurnya aku bisa melaluinya, berkat bantuan Tuhan dan teman-teman kelompok yang mau kerja semua :D

Waktu berjalan seperti roda, ada kalanya hidup terasa mudah, adapun juga yang sulit, ada yang senang, ada yang sedih. Makin ke sini, makin tahu apa yang aku mau. Tak jarang juga aku berpikir sendiri dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dijawab sendiri dalam hati. Pertanyaan yang muncul contohnya "kok gue suka ya sama dia?", "kenapa harus dia?", "ngak salah kamu? sama orang yang beda jauh dan lebih muda lagi?" begitu banyak pertanyaan yang terkadang muncul dengan tiba-tiba dan menimbulkan perasaan-perasaan mulai dari bingung, galau, sebel, senang, dan ada perasaan yang tak dapat digambarkan.

Memangnya di semester-semester yang lalu tidak tahu apa yang diinginkan? Sebagian ada yang tahu, sebagian ada yang tidak, dan parahnya tidak sabaran, yang akhirnya jadi senjata makan tuan. Saat pertengahan semester 6 sampai sekarang, aku lebih bisa bersabar, walau terkadang pikiran-pikiran yang tak diinginkan (kebanyakan soal pasangan hidup #curcol hahaha) tersebut suka bikin greget. Ketika pikiran-pikiran tersebut muncul, kadang berkhayal, seandainya kalau terjadi bagaimana.

Selain menyadari hal yang aku mau, aku juga menyadari bahwa saya juga tidak menyukai seseorang. Di satu sisi aku membutuhkan figur laki-laki (ini berbeda dengan seseorang yang disebutkan sebelumnya) yang bisa mengerti perempuan, di sisi lain aku tidak senang dengan seseorang tersebut. aku tidak menolak kenyataan yang terjadi, hanya saja kadang terasa sulit bagiku untuk memahami di saat yang aku suka dan tidak suka bercampur menjadi satu, seperti tak ada batas di antara keduanya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca :)

H-1 menjelang hari kemerdekaan.
16/8/2015
Menandakan bahwa diri ini belum sepenuhnya Merdeka dari diri sendiri.
Diri yang Merdeka adalah diri yang bisa kenal dirinya, yang bisa melawan dirinya sendiri, dan menang atas diri sendiri :)

Perdebatan

Selesai sudah perdebatan antara pikiran dan batin. Aku merasa lumayan lega setelah membicarakan hal ini dengan mamaku. Beliau juga sangat terbuka dan mau memberikan pendapat-pendapatnya.
Perdebatan ini sudah berlangsung dengan lama. Perdebatan ini dimulai dari semester satu hingga sekarang. Aku berharap perdebatan ini tidak berlanjut sekian lama, tetapi aku tidak tahu apakah perdebatan ini dapat selesai begitu saja, karena aku merasa setelah berdiskusi pun, aku merasa tidak puas. Aku ingin mencari lebih jauh lagi dari teman-temanku maupun dengan orang lain.

Pembaca yang terkasih, perdebatan ini mengenai sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh lawan jenis dan sikap-sikap yang boleh dilakukan maupun tidak boleh dilakukan dalam konteks berteman atau bersahabat. Pembaca yang terkasih, bukan maksudku untuk menyinggung pembaca yang merasa pernah melakukan hal serupa, namun ini lebih merupakan suara hati yang telah terpendam selama 2 tahun lebih. Aku hanya berharap masalah ini bisa selesai dengan segera. Pembaca dapat memberikan komentar pada tulisan ini, segala komentar akan diterima dengan senang hati, karena tujuan bagi aku adalah untuk menambah pengetahuan ataupun jika pembaca tertarik untuk membahasnya, dengan senang hati aku membuka diri pada pembaca.

Silahkan membaca :)

Aku besar di keluarga yang menekankan untuk tetap pada norma. Walaupun tidak 100% mematuhi norma yang ada, aku merasa aku agak terkungkung di dalam ajaran-ajaran untuk tunduk pada norma yang ada. Kalau 100% mematuhi norma, sudah dapat dipastikan, aku hanyalah manusia robot. Aku tidak mau menjadi manusia robot. Aku pikir, sesekali manusia perlu membuat kesalahan, kesalahan yang dapat mengajarkan manusia untuk lebih bijaksana dan dewasa. Kesalahan akan selalu terjadi di sepanjang hidup manusia, bentuknya bisa sama maupun berbeda, hanya saja yang membedakannya adalah cara manusia ketika menghadapi kesalahan itu. 
Nah, langsung saja ke topik yang ingin aku bahas. ^^

Pembaca telah mengetahui bahwa aku besar di keluarga yang hampir seluruhnya selalu mematuhi norma yang ada dan mengalami perdebatan. Pembaca yang terkasih, awalnya perdebatan ini terjadi ketika aku duduk di semester satu. Beberapa bulan setelah duduk di semester satu, sebut saja dia A, si A ini sering sekali menggelitiki aku dan juga beberapa temanku yang perempuan. Tidak hanya digelitiki, beberapa kali si A ini sering merangkulku, bukan hanya merangkul aku saja, tetapi merangkul beberapa teman perempuan yang lain