Perasaan tertarik pada seseorang merupakan hal yang mendasar dalam sebuah proses, sebelum mengenal orang tersebut lebih jauh.
Sebelumnya aku tidak tertarik dengannya, bahkan aku bisa membaca gerak-geriknya yang tertarik denganku. Entah mengapa, aku jadi tertarik dengannya hanya gara-gara dia adalah pendengar yang baik juga humoris. Mulai dari situlah, kita beberapa kali chatting, dan aku merasa sedikit demi sedikit bisa tahu mengenainya lebih banyak. Sedikit demi sedikit mencoba memberikan perhatian padanya.
Bahkan kita sudah saling tahu nama panggilan yang jarang terdengar di kampus.
Semakin sering pula aku berharap, semakin mudah pula mendapatkan rasa kecewa dan tidak bisa berlapang dada. Siapa yang mengingatkan? Diriku sendiri, dari sisi logika. Logika ini mengingatkan dan menyadarkan pula untuk tidak berharap terlalu banyak. Manakalanya untuk membuat perasaan ini tidak berharap terlalu banyak terlihat susah. Apakah bener susah banget? Iya susah. Tapi mau tak mau dijalani saja, proses mengendalikan perasaan. Sampai kapan perasaan ini mau dikendalikan? Sampai sadar dengan kenyataan.
Apa sih yang membuatmu berharap lebih darinya? Aku merasa nyaman, dan senang saat dia mau berbagi cerita, mimpi-mimpinya, dan whatever . Aku mau jadi teman berbaginya. Ya, aku juga berharap dia merupakan pasangan hidup yang cocok. Sempat baper (bawa perasaan), yang kemudian ditampar oleh logika untuk tidak berharap terlalu jauh dan juga tidak tahu apakah dia memang benar-benar menyukaiku? Karena ketidakpastian ini, aku memutuskan untuk pelan-pelan mundur. Mundur dari keinginan untuk bisa bersamanya, mundur dari keinginan untuk bisa menjadi bagian hidupnya. Pelan-pelan untuk mengurangi perhatian yang kuberikan.
Proses mundur itu juga tak mudah. Di satu sisi, aku ingin tetap akrab dengannya di sisi yang lain aku harus belajar merelakan kalau memang belum waktunya, dia menyukai sebagai teman, dan bisa jadi dia sudah menyukai perempuan lain. Slow but sure, aku harus bisa bersikap biasa namun masih terkesan akrab. Akupun menyadari kalau ada beberapa teman yang bisa membaca gerak gerikku terhadapnya. Semudah itukah gerak gerikku terbaca olehmu, teman? 😶
Hai kamu, aku ingin bersikap biasa saja. Tapi bagaimana? Aku pun juga bingung. Aku sempat melihatmu bagaimana kau salah tingkah di hadapanku. Will be it's okay that we keep this feeling from each other? Kalau iya, mari kita jalani sebagaimana seperti biasanya kita berinteraksi, meski itu akan menorehkan (mungkin) perasaan rindu, kecewa, dan senang yang bercampur menjadi satu.
27/5/2016
G.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar