Senin, 25 Februari 2013

Dunia Seorang Anak Tunarungu (1)

Aku lahir di sebuah keluarga di mana jalur garis keturunan tidak mempunyai gen penyebab tunarungu. Tunarungu itu adalah ketidakmampuan untuk bisa mendengar. Dan tingkatannya pun bisa bervariasi mulai dari tunarungu tingkat ringan, sedang dan berat. Sementara pada diriku, tunarungu yang kualami sudah bisa dibilang tunarungu tingkat berat.

Walaupun aku tunarungu, aku tetap dibesarkan oleh kedua orangtuaku. Bahkan kakek nenek ku dari pihak papa dan mama, mereka tetap menerimaku sebagai cucu pertama mereka.
Mungkin dengan mempunyai anak yang seperti aku papa mamaku bingung sangat luar biasa. bagaimana kami membesarkan kamu dengan kekurangan ini. bagaimana kami bisa berkomunikasi denganmu? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu pernah muncul di benak mereka. Dan betul, pada saat aku masih sangat kecil, aku sering merasa frustasi karena apa yang aku mau tidak pernah bisa aku dapatkan, dan mereka tidak mengerti apa keinginanku. Sehingga pada saat aku kecil, papa dan mamaku mengatakan bahwa sebelum aku bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa), aku sangat nakal luar biasa.

SLB itu adalah sekolah yang menyediakan pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus, khususnya seperti diriku. Kebutuhan khusus itu bisa terbagi menjadi tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa ataupun anak yang mengidap autisme.

Tapi, dibalik kenakalanku, mereka tetap mengasihiku. Mereka bahkan mau mencari sekolah SLB yang bagus. Dan akhirnya sebelum aku masuk ke SLB, aku mengikuti pelatihan wicara di Santi Rama, yang pada akhirannya aku bersekolah di SLB/B Pangudi Luhur selama tiga tahun.
Di hari pertama aku bersekolah, aku memakai alat bantu dengar karena aku melihat teman-temanku juga memakai alat bantu dengar (pengaruh conformity nih, wuih ilmu psikologinya ternyata sudah ada dari dulu, hanya baru terpikirkan. Ternyata aku terpengaruh dengan teman-teman yang lain untuk memakai alat bantu dengar itu). Aku sudah mempunyai alat bantu dengar pada usia dua tahun. Namun orangtuaku bingung , juga ada penolakan dari aku, karena aku tidak mau memakai alat bantu dengar.

Dari pembicaraan antar aku dengan orangtuaku, aku mengetahui bahwa ketika di hari pertama aku bersekolah, ternyata para orangtua yang memiliki anak yang tunarungu diharuskan mengikuti "sekolah singkat selama tiga bulan". Sekolah? Ya sekolah, pemimpin SLB yang biasa dipanggil Bruder, mengajarkan kepada para orangtua termasuk mamaku, bagaimana cara melatih anak tunarungu.  Aku berterima kasih pada mamaku yang telah rajin masuk selama tiga bulan demi kebaikan, dan masa depanku. Kudapati dari cerita mamaku bahwa banyak orang tua yang tidak rajin ataupun telaten mengikuti kelas singkat selama tiga bulan itu.
Mama melatih aku dengan sabar, tak henti-hentinya mama mengingatkan agar aku berbicara dengan baik.

Setelah aku tiga tahun di SLB/B TK Pangudi Luhur, aku direkomendasikan oleh Bruder Bambang untuk mengikuti pendidikan di sekolah normal.

aku sudahi dulu ya tulisan ini, nanti disambung lagi ^^

duniaku sepi sejak lahir
duniaku sama dengan dunia kalian
hanya saja ada hal berbeda,
aku adalah gadis tunarungu
dan kalian adalah orang yang normal


Tidak ada komentar:

Posting Komentar