Terkadang kupikir, 'mereka' telah menyalahgunakan arti dari HAK
Dimana mereka meminta uang itu adalah haknya, padahal meminta uang dari orang lain itu bukanlah sebagai suatu hak. Dan aku melihatnya sebagai bentuk kemalasan mereka.
Kadang kupikir juga bahwa 'mereka' memang :
- Malas
- Tidak ada keterampilan sehingga tidak ada lapangan pekerjaan yang bisa dilakoninya
- Keterbatasan fisik
- Sudah mengakar dalam diri 'mereka'
- Terpaksa (?)
Sebenarnya, asalkan 'mereka' rajin, mau bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian, keinginan 'mereka' bisa tercapai. Tapi, bersakit-sakit yang dimaksudkan bukan menderita penyakit tertentu kemudian ada komplikasi penyakit lainnya, seram kali kalau sampai menderita penyakit-penyakit. Hehehe :p
Dan, kadang diriku ingin sekali membantu 'mereka' namun, di benakku muncul anggapan, "kalo gue bantuin 'mereka' ntar malah tambah males dong". Padahal ada pesan sudah hendaknya kita membantu sesama yang kesusahan, nah disini terjadi kebingungan dan tidak jarang membuat perasaan serba-salah , begini salah begitu juga salah, jadi apa yang benar? Tak jarang akhirnya aku memilih untuk mengabaikan mereka. (Di sini overload urban berlaku juga, mengapa? Karena aku sebagai orang kota, memilih untuk 'mengabaikan' mereka, terlalu banyak stimulus di kota. kalau aku memperhatikan satu-satu, kapan beres urusanku yakk?? ceilahhh hahaha :p)
tangan yang selalu meminta, menunjukkan kemalasan. tangan yang mau bekerja terus, menunjukan buahnya di kemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar