Sabtu, 19 Januari 2013

Automatic Thinking dan Controlled Thinking

Mengapa diberikan judul Autonomic thinking dan Controlled Thinking? Mengapa bukan judul yang lain saja? Ya, aku memilih kata kata itu untuk merefleksikan apa yang telah kuperbuat.
Topik ini baru saja aku dapatkan di perkuliahan yang diadakan Kamis, 17 Januari 2013.

Sebenarnya banyak sekali yang mau dikaitkan dengan konsep autonomic thinking dan controlled thinking,  tetapi aku tidak mau membuat si pembaca blog aku ini menjadi bingung, sebenarnya apa yang mau diceritakan. Dan aku membatasi hanya pada kejadian yang baru kualami beberapa hari yang lalu. :)


Dua pemikiran ini sudah tentu sering dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Kapan harus berpikir autonomic, dan kapan pula harus berpikir controlled.  Hal itu baru aku ketahui istilahnya sejak mengikuti perkuliahan Kamis kemarin :) . Autonomic Thinking adalah proses berpikir yang umumnya terjadi sangat cepat dan tidak membutuhkan banyak effort. Sementara controlled thinking adalah proses berpikir yang membutuhkan banyak effort serta telah dipikirkan dengan hati-hati.

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata yang baru dialami beberapa hari yang lalu! >_<

Beberapa hari yang lalu, disaat aku ingin menemui seseorang, aku berpikir untuk langsung menemuinya, tetapi ketika sudah sampai, aku berpikir ulang " ketemu atau tidak"berulang kali. Sampai aku memutuskan untuk tidak bertemu, tetapi karena perasaan tidak bertemu dengan ia membuatku sesak, akhirnya aku menemui ia. :$  Dulu, sebelum pertemuan terakhir itu, aku ingin meminta untuk dipeluk olehnya, namun keinginan itu tidak bisa terlontar dari mulutku (sangat malu memang untuk kuceritakan di sini, namun dari cerita ini, aku hanya ingin merefleksikan kembali apa yang telah terjadi)

Sebelum menemui ia, terjadi proses autonomic thinking pada diriku, tetapi sebelum benar-benar menemui ia, ada sisi lain dari pikiran yang menahanku. Sisi lain pikiran (controlled thinking) itulah yang menahanku, dan membuatku berpikir berulang kali. Dan, anda bisa menebaknya, sama seperti apa yang telah diceritakan di atas.

Kalau aku melakukan autonomic thinking  bisa jadi ada beberapa kemungkinan yang muncul seperti : dia tetap mau menerima untuk meladeniku ngobrol walau aku telah bersikap lancang atau dia mengambil jarak, karena kelancanganku untuk meminta dipeluk, atau kemungkinan terburuk, dia tidak mau berbicara lagi denganku.

Sementara kalau aku melakukan controlled thinking, aku lihat, banyak keuntungan yang bisa aku peroleh seperti : aku masih bisa tetap mengobrol dengannya, dan tentu saja setelah ia mengizinkan, karena aku bertanya padanya, perihal bolehkah aku datang untuk mengobrol kalau sedang senggang? Setelah dilihat-lihat, aku tidak menyesal walau keinginan itu tak bisa terucapkan, karena aku masih bisa mengobrol dengannya . :"D
Jika aku melakukan autonomic thinking, mungkin efeknya bisa dibilang lebih parah, kalau aku tidak memikirkan apa konsekuensi dari setiap perbuatanku.

Selesai sudah masa-masa untuk mereflektifkan diri sendiri. Tidak selalu autonomic thinking lebih bagus. vice versa. Keduanya hanya diterapkan berdasarkan situasi dan kondisi yang berbeda pula. Aku harap, anda tahu bagaimana situasi dan kondisi yang menuntut automatic thinking ataupun controlled thinking :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar